KARAWANG, - Jawa Barat menjadi wilayah investasi terbesar di Indonesia.
Tidak tanggung-tanggung 60 persen dari total investor mengincar provinsi
yang berbatasan langsung dengan ibu kota negara ini. Sayangnya,
tingginya investasi sangat berpotensi menyusutkan lahan pertanian.
"Contoh Karawang yang awalnya penghasil gabah tertinggi, tetapi saat ini
kalah oleh Indramayu. Dua-duanya penting, tetapi kita harus pikirkan
bagaiman inovasi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian
untuk meningkatkan produksi," kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy
Mizwar di sela-sela peringatan Hari Krida ke-44 di Kampung Budaya, Desa
Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang, Kamis (2/6).
Dia juga meminta, setiap daerah di Jawa Barat melakukan validasi data
pertanian. Karena dalam beberapa kasus, kerap kali kebijakan pemerintah
tidak tepat sasaran akibat tidak akuratnya data yang ada.
Pemeran Naga Bonar itu lantas mencontohkan ketidakakuratan data
pertanian di Kabupaten Indramayu yang selama ini dikenal sebagai salah
satu lumbung padi di Jawa Barat, namun juga penerima raskin terbesar.
Menurutnya, kebijakan seperti ini bisa terjadi karena data yang
diambilnya tidak akurat. "Kan lucu, kalau penghasil padi terbanyak di
Indonesia tetapi juga penerima raskin terbanyak. Tentu permasalahan
kesejahteraan ini penting, untuk mengukurnya perlu data yang akurat
bagaimana keadaan pertanian, stok pangan dan ekonomi. Jangan sampai
data-data ini hanya dipermainkan oleh spekulan. Tolong diskusikan itu,
dan kita bareng-bareng perangi," ucapnya.
Kata Deddy, kini Jawa Barat menjadi penyumbang beras 12 juta ton atau 17
persen dari produksi nasional. Sementara kebutuhan 46 juta warga Jawa
Barat hanya 4,6 juta ton beras per tahun. "Berarti sisanya masih bisa
membantu daerah lain, tetapi masalahnya beras tersebut larinya ke mana.
Sehinga validasi data ini sangat penting untuk mengetahui permasalahan,"
terangnya.
Deddy juga meminta, program-program inovasi pertanian guna menjauhkan
Indonesia dari rawan pangan. "Jangan sampai kita peternak ayam tidak
mampu makan ayam, kita petambak ikan tidak mampu makan ikan," terangnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan
Karawang Kadarisman menyebutkan, pihaknya berencana membuat branding
beras asli Karawang. "Saya sudah koordinasi dengan bupati dan wakil
bupati untuk membuat branding beras."
Diakuinya, terkadang beras Karawang dibawa ke luar daerah tanpa kabar.
"Misalnya daerah Cianjur butuh beras pandanwangi, tapi karena di sana
produksinya sedikit, maka mereka mencari langsung ke petani dan
penggiling beras di Karawang," tuturnya.
Untuk itu, pihaknya berencana akan membuat aturan branding Karawang
melalui pemasangan karung berlogo Karawang. "Nanti setiap penggilingan
harus menyediakan karung-karung berlogo asli Karawang, sehingga
pendataan akan mudah," ujarnya.
Karena itu, beras Karawang juga harus dijaga kualitasnya. "Nanti ada MoU
dengan penggilingan, jangan sampai mereka memasukkan beras tanpa
kualitas," pungkasnya.
Tentang pelaksanaan Hari Krida Pertanian, Wagub Deddy Mizwar
menyebutkan, seharusnya menjadi momentum untuk menyelesaikan
permasalahan kesejahteraan petani dan nelayan. "Hari Krida bukan
merupakan ajang hura-hura, tetapi harus menjadi komunikasi dan diskusi
petani dan nelayan lintas daerah untuk menciptakan inovasi dalam
mengatasi permasalahan di daerahnya masing-masing," kata Deddy. (ops)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar